Bab 1: Pendahuluan
A.
Latar Belakang Masalah
Tempe adalah lauk khas asli Indonesia.
Banyaknya tempe yang beredar memiliki rasa dan tekstur yang berbeda pula akibat
bahan yang dibuat untuk membuat membungkusnya
Semakin maraknya penjualan tempe sebagai lauk pauk
kesukaan masyarakat Indonesia membuat pengerajin tempe membuat tempe dengan
berbagai jenis pembungkus. Pembungkus plastik, daun jati, dan pisang biasanya
menjadi primadona sebagai pilihan pembungkus tempe.
Kemasan
plastik memiliki kelebihan yaitu, kuat, ringan, tidak karatan. Sedangkan
kelemahannya adalah adanya beberapa zat-zat kimia yang dapat berpindah ke bahan
makanan. Sedangkan daun jati memiliki kelebihan yaitu baunya sedap dan tidak
mengandung bahan kimia, dan kelemahannya adalah apabila tersentuh oleh kulit
tangan akan terasa sedikit gatal dan sulit didapat saat kemarau. Daun pisang
memiliki kelebihan sebagai pembungkus alami, tidak mengandung bahan kimia,
mudah ditemukan, mudah dilipat,dan memberi aroma sedap. Disamping itu, ada juga
kelemahan daun pisang yaitu mudah sobek dan kurang bersih.
Dengan adanya perbedaan
dari pembungkus penulis ingin meneliti dampak dari pembungkus tempe terhadap
citarasa tempe.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut kita dapat menyimpulkan
Bagaimana pengaruhnnya pembungkus tempe
terhadap citarasa tempe?
C.
Pembatasan Masalah
Agar
tidak menyimpang dari masalah maka ada pembatas dari penelitian ini yaitu:
-
Hal yang akan
diteliti adalah kedelai tempe yang memiliki pembungkus plastic, daun jati, dan
pisang
-
Dan obyek dari
penelitian adalah perbedaan citarasa tempe
D.
Tujuan Penelitian
Untuk
mengetahui pembungkus tempe manakah yang memiliki cita rasa tempe yang nikmat
E.
Manfaat Penelitian
Manfaat bagi peneliti:
a. Mengetahui
cara pembuatan tempe
b. Dapat
mengetahui proses fermentasi tempe dengan ragi
c. Menjadi
konsumen yang bijak dalam memilih kedelai, tempe, ragi yang berkualitas bagi
pembuatan tempe
d. Menambah
pengetahuan dan pengalaman tersendiri bagi penulis
Manfaat
bagi masyarakat:
a. Masyarakat
dapat mengetahui cita rasa tempe yang lebih nikmat dengan membedakan cita rasa
tempe dari pembungkus yang bermacam-macam
b. Menjadi
konsumen yang bijak dalam memilih tempe yang berkualitas dilihat dari
pembungkusnya
F.
Hipotesis
Tempe
dengan pembungkus plastik lebih nikmat daripada pembungkus daun jati dan daun
pisang
Bab 2: Tinjauan Pustaka
A.
Landasan Teori
Tempe
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal
sebagai "ragi tempe".
Kapang yang tumbuh pada kedelai menyederhanakan
senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh
manusia. Tempe kaya akan serat
pangan, kalsium, vitamin B dan zat
besi.
Secara umum, tempe
berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat.
Kapang
Kapang merupakan
anggota regnum Fungi ("Kerajaan" Jamur) yang biasanya tumbuh pada
permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak diolah.
Fermentasi
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan tanpa oksigen.
Pada umumnya pembungkus tempe adalah:
A. Plastik pembungkus
Plastik pembungkus
adalah bahan yang digunakan untuk membungkus sesuatu (biasanya makanan) Bahan pembuat plastik
pembungkus dari minyak dan gas sebagai sumber alami, dalam perkembangannya
digantikan oleh bahan-bahan sintetis sehingga dapat diperoleh sifat-sifat
plastik yang diinginkan dengan cara kopolimerisasi, laminasi, dan ekstruksi.
B. Daun Jati
Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat
tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau.
Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus,
termasuk pembungkus makanan. Daun jati juga banyak digunakan sebagai pembungkus tempe.
C. Daun Pisang
Daun pisang adalah daun dari pohon pisang yang digunakan sebagai bahan pelengkap
dalam kuliner, mengandung polifenol dalam jumlah besar yang sama seperti
pada daun teh, sehingga
menghasilkan aroma khas ketika menjadi bahan pembungkus makanan.
Makanan khas Indonesia yang menggunakan
daun pisang sebagai pelengkap, umumnya sebagai pembungkus atau alas seperti
Tempe.
Kedelai
Kedelai yang dapat diolah menjadi tempe
adalah biji tanaman kedelai (Glysine max) yang kini telah dibudidayakan
hampir di seluruh dunia. Tanaman kedelai berbentuk semak pendek setinggi 30-100
cm. Tanaman kedelai liar tumbuh merapat. Buahnya berbentuk polong. Bijinya
bulat lonjong seperti kedelai biasa dan kulit bijinya sangat tebal sehingga
embrio dan keping biji dapat terlindung lebih baik dibandingkan biji kedelai
biasa (Sarwono, 2005). Jenis kedelai dapat dibedakan menjadi empat macam
menurut Hyeronymus (1993) antara lain:
a. Kedelai Kuning
Kedelai Kuning adalah kedelai yang kulit
bijinya berwarna kuning atau putih. Apabila dipotong melintang memperlihatkan
warna kuning pada irisan keping bijinya dan biasanya dibuat tahu atau tempe.
b. Kedelai Hitam
Kedelai hitam adalah kedelai yang kulit
bijinya berwarna hitam.
c. Kedelai Hijau
Kedelai hijau adalah kedelai yang kulit
bijinya berwarna hijau, apabila dipotong melintang memperlihatkan warna hijau
pada irisan keping bijinya.
d.
Kedelai Coklat
Kedelai coklat adalah kedelai yang kulit
bijinya berwarna coklat.
Bab 3: Metodologi Penelitian
A.
Metodologi Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
eksperimen dan survei. Meneliti dengan menggunakan variable:
a. Variabel
Manipulasi:
Tempat
pembungkus tempe dengan plastik, daun jati, daun pisang
b. Variabel
Respon:
Cita
rasa yang dihasilkan
c. Variabel Kontrol
Jumlah
kedelai, ragi, cara pembuatan, suhu, waktu fermentasi
B.
Instrumen Penelitian
Jenis
instrument penelitian yang penulis gunakan adalah survei. Survei terhadap 10-15
orang dengan cara mencoba cita rasa dari tempe dengan pembungkus yang berbeda.
Alat dan bahan yang diperlukan untuk pembuatan tempe adalah:
a. Alat
i.
Panci
ii.
baskom
iii.
kompor
iv.
alat saring
v.
air
b. Bahan
i.
Kedelai 1,5 kg
ii.
Ragi bungkus
iii.
daun pisang
iv.
daun jati
v.
plastik pembungkus
C.
Prosedur Penelitian
Tahap 1 (Persiapan)
Pada
tahap ini penulis mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam tahap
pelaksanaan dan penelitian pembuatan tempe
Tahap 2 (Pelaksanaan)
Cara
pembuatan tempe
1) Pencucian
kedelai
Sebelum diolah kedelai harus dicuci untuk
menyisihkan kotoran batu dan kedelai yang rusak dengan menyiram air sekaligus
menyisihkan kotoran
Proses pencucian ini sangat penting karena
jika proses pencucian ini tidak bersih maka tempe yang di hasilkan tidak tahan
lama
2) Perebusan
kedelai
Kedelai kemudian dimasukan ke dalam panci,
diusahakan air yang digunakan yaitu air mineral. Kedelai direbus hingga 1-2 jam
hingga matang
3) Perendaman
kedelai
Setelah kedelai direbus langkah
selanjutnya adalah didinginkan lalu direndam ke dalam baskom dan diisi dengan
air bersih selama 1 hari (18-24 jam) dengan tujuan agar kulit kedelai lebih
mudah mengelupas.
Lalu setelah di rendam seharian di cuci
dengan tujuan menghilangkan kulit dari kedelai sampai semuanya hilang.
4) Perebusan
yang kedua kalinya
Perebusan
ini dilakukan dengan bertujuan menghilangkan bau, kotoran, dan bakteri yang
mungkin masuk pada proses sebelumnya.
Rebus
hingga air mendidih lalu dinginkan selama 15 menit
5) Penyaringan
Di
pisahkan dari air panas lalu di letakan di tampah dan disebar secara merata
agar mudah kering
6) Peragian
Bagian terpenting dan paling menentukan
berhasil tidaknya pembuatan tempe adalah proses peragian
Peragian ini dapat dilakukan jika
kedelai dalam keadaan kering dan hangat (tidak terlalu dingin dan panas). Jika
terlalu panas ragi tidak dapat berfungsi. Namun jika teralu dingin peragian
tidak dapat maksimal karna cenderung tidak berhasil mengembangbiakan
pertumbuhan ragi dan kapang
Ragi yang saya gunakan sekitar kurang
lebih1 sendok makan untuk 0,5-1 kilogram kedelai. Namun jika suhu udara cukup
dingin alangkah baiknya ditambah sedikit lagi.
Peragian kedelai ini dilakukan dengan
cara menebar ragi secara merata, kemudian mengaduk-aduk kedelai hingga ragi
benar-benar merata ke seluruh bagian kedelai
7) Pembungkusan
Setelah proses peragian maka kedelai akan
di bungkus dengan pembungkus yang berbeda. Sebelum dibungkus daun-daun tersebut
di hilangkan kotorannya bisa dengan cara di cuci
Yang pertama di masukan ke dalam plastik
kira-kira 5-10 sendok makan kedelai. Lalu di tali dengan tali
Yang kedua di masukan ke dalam daun pisang
dengan cara daunnya dibungkus “pincuk” lalu
masukan 5-10 sendok makan kedelai
Yang ketiga dimasukan ke dalam daun jati
dengan cara dibungkus dengan daun jati “pincuk”
lalu masukan 5-10 sendok kedelai.
Yang paling penting bungkus harus ditusuk dengan jarum/lidi
8) Pemeraman
Proses
dibungkus dan dicetak dalam suhu udara yang hangat agar fermentasi berjalan
secara efektif. Proses ini memakan waktu kurang lebih 24 jam. Alangkah baiknya
saat fermentasi berjalan sebaiknya di tutup dengan kain selama 1 hari
Proses
mensurvei
Survei
ini dilakukan dengan melibatkan 10-15orang yang di dicoba 3 sampel secara acak.
Saya mengganti sampel daun jati dengan X, sampel daun pisang dengan Y, dan
sampel plastik Z. Responden diminta mencicipi ketiga sampel dan diberi
pertanyaan tentang manakah citarasa yang paling nikmat antara ketiga sampel
tersbut. Lalu di catat dalam sebuah tabel
Bab 4: Hasil penelitian dan pembahasan
a.
Pengumpulan Data
Penelitian
yang saya lakukan adalah mensurvei dan mendapatkan respon dari responden tempe
manakah yang memiliki citarasa yang lebih nikmat?
Bab
5: Kesimpulan dan penutup
A. Simpulan
Dari penelitian ini kita dapat
menyimpulkan bahwa ternyata pembungkus tempe dapat mempengaruhi citarasa tempe
yang dihasilkan. Dan citarasa tempe yang paling nikmat adalah dengan
pembungkus…. Karena……hipotesis (dapat diterima/tidak)
B. Kendala
Kendala yang penulis alami memang cukup banyak yaitu :
1. Proses pengumpulan bahan, karena
agak sulit menemukan bahan-bahan tersebut
2. Proses Pemisahan kulit dari
kedelai, agak sulit karena jumlah banyak dan kulit kedelai susah di kupas
3. Proses peragian, pada proses ini
penulis mengalami kesulitan pada menentukan takaran yang pas
4. Proses pemeraman, suhu saat itu
cukup dingin karena musim hujan dan itu bisa menghambat proses peragian
Penutupan
Demikian
Laporan hasil penelitian yang dapat kami sampaikan. Kekurangan menjadi hal yang
wajar bagi kami, namun itu akan menjadi tidak wajar jika tidak diperbaiki. Kami
mengucap banyak terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu kami untuk
menyelesaikan penelitian ini. Harapan kami semoga penelitian kami dapat berguna
bagi diri kami pribadi dan masyarakat umumnya. Kritik dan saran semoga dapat
membangun kami untuk menjadi lebih baik.
~Terima kasih~